Hanya Namamu dalam Doaku (2025)

Hanya Namamu dalam Doaku (2025)

Ulasan pertama yang akan membuka perjalanan platform ini adalah sebuah film berjudul "Hanya Namamu dalam Doaku". Film ini dirilis pada tanggal 21 Agustus 2025 dan diperankan oleh Vino G. Bastian (salah satu aktor Indonesia favoritku), Nirina Zubir, dan Anantya Kirana. Pada awalnya, aku menonton film ini karena melihat trailer-nya yang cukup menarik buatku, dengan premis cerita yang sebetulnya nggak terhitung "baru" di dunia film Indonesia, namun ada daya tarik sendiri yang cukup menguatkanku untuk akhirnya menekan tombol "mulai" melalui platform Netflix.

Cerita ini dimulai dengan dua pasangan, Arga (Vino G. Bastian) dan Hanggini (Nirina Zubir), yang memulai bahtera perjalanan hidup mereka sebagai sepasang suami dan istri. Seperti cerita pada umumnya, kita dibawa untuk mengikuti history keduanya mulai dari janji kepada orang tua, menikah, membangun rumah bersama, memiliki keturunan, dan kehidupan keluarga yang menghangatkan. Kita juga dibawa mengenal sosok Arga sebagai seorang suami dan ayah yang kalau istilah kita sekarang tuh... husband material, intinya cowok yang ijo royo-royo banget, dan membuat penonton langsung paham karakter Arga ini seperti apa. Kemudian kita juga kenal sosok Hanggini, istri sekaligus ibu yang ceria, cocok banget dengan visualisasi Nirina Zubir, yang nggak dibuat-buat, sangat natural.

Dari awal cerita, kita langsung disuguhkan dengan adegan yang bikin refleks bertanya, "Loh, kenapa nih?" karena jujur... trailer yang aku lihat di Netflix nggak menunjukkan arah ending dari filmnya, mungkin beda cerita kalau aku menonton trailer yang di YouTube. Film ini mengangkat tema soal penderita penyakit ALS atau Amyotrophic Lateral Sclerosis. Berdasarkan sumber yang aku baca, penyakit ALS ini adalah penyakit neurodegeneratif progresif yang menyerang sel saraf motorik di otak dan sumsum tulang belakang, menyebabkan otot melemah, menyusut, dan akhirnya lumpuh karena otak kehilangan kemampuan untuk mengontrol gerakan sukarela seperti berjalan, berbicara, menelan, dan bernapas. Penyakit ini akan memburuk seiring berjalannya waktu dan belum ada obat untuk menyembuhkannya.

Jadi... sudah tau kan arah ceritanya ke mana?

Iya, Arga divonis menderita penyakit ALS. Sosok Arga yang sangat suami dan bapak material ini bikin aku yang nangisan ini langsung mewek begitu tau kalau ternyata dunia membuat dia nggak bisa menemani Hanggini dan Nala (Anantya Kirana), anak perempuannya, sampai di masa depan. Menariknya, cerita ini nggak cuma fokus dengan si tokoh utama yang sakit, keluarga tau, dan mereka sama-sama menghadapi cobaan ini sampai akhir. Mereka menyisipkan realitas lain yang membuat ada intrik menarik untuk memperlihatkan sisi Arga yang rapuh dan manusiawi, menunjukkan kalau dia cuma manusia biasa yang lemah dan nggak sempurna.

Dalam alurnya, penonton berhasil dibuat emosional sekaligus "greget" yang muncul bersamaan. Menurutku, Vino memang juaranya untuk portray karakter yang rapuh kayak gini, rasa frustasi, ketakutan, dan rasa cintanya yang besar ke anak dan istrinya, dia bisa membuat itu semua blend in jadi satu. Sehingga ketika sampai di klimaksnya, pecah, aku pun sampai sesenggukan. Juga karakter Hanggini yang manusiawi banget di sini, semua kemarahan dia di awal, kecurigaan, itu semua make sense, walaupun aku sewaktu nonton juga gregetan sendiri, tapi kalau ada di posisi yang sama, bahkan sepertinya hampir semua orang juga akan menunjukkan reaksi yang sama seperti dia.

Ada juga sosok Marissa (Naysila Mirdad) yang berhasil bikin tensinya naik, peran dia sebagai mantan Arga yang menurutku muncul di saat nggak tepat (tapi memang di sinilah peran dia dibutuhkan, karena kalau nggak ada dia premis cerita ini juga akan kurang menarik), dan bagaimana si Marissa ini yang juga turut andil dalam pemulihan emosi Arga.

Dari proses Arga pertama kali divonis sampai klimaks cerita, kita diajak untuk tau betapa cepat perubahan yang dirasakan oleh penderita. Ada adegan yang menurutku ikonik, dan berhasil membuat aku mewek di akhir-akhir cerita. Mungkin akan sedikit spoiler, namun aku berasumsi kalian sudah menontonnya atau bagi yang belum mungkin kalian akan segera menontonnya setelah ini, intinya adegan ini adalah salah satu yang paling membuatku terenyuh. 

Hanggini sering kali pura-pura tertidur di sofa sambil menunggu Arga pulang. Ketika Arga sampai, dia akan tersenyum melihat istrinya yang pura-pura tertidur itu dan segera menggendong istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Kemudian, ketika Arga pada akhirnya divonis terkena ALS, otot-ototnya jadi melemah, dan ketika dia melihat Hanggini pura-pura tertidur dia cuma bisa menahan tangisnya. Di situ hati aku nyes banget... karena dulu Arga pernah janji kalau dia akan terus gendong Hanggini sampai tua. Film ini... benar-benar nggak cocok untuk orang yang gampang nangis kayak aku. Hiks.

Seperti yang bisa penonton duga, sekali pun pada awalnya Arga berusaha melakukan segala cara untuk membuat istri dan anaknya nggak tau penyakitnya, membuat mereka jauh dengan dalih nggak ingin merepotkan mereka, pada akhirnya dia menyerah. Pada akhirnya, dia mengizinkan Hanggini dan Nala untuk menemani dia di sisa hari yang dia miliki. Waktu Nala bilang ke papanya kalau dia udah nggak mau lagi ke London, dia cuma papanya pulang, dia cuma mau bertiga lagi, dan di situ tensi kesedihannya naik lagi.

Cerita ini ditutup dengan apik dan membuat penonton langsung mengerti bahwa pada akhirnya Arga memang akan pergi. Pergi untuk selama-lamanya. Adegan Hanggini dan Nala mencuci mobil di bawah hujan, hanya tinggal berdua, dan ada bayang-bayang Arga di sana, membuat penonton rewind sedikit saat mereka pernah melakukan itu bertiga, waktu Arga masih baik-baik aja.

Menariknya, di penghujung cerita, setelah credit ada video-video yang menampilkan para penderita ALS yang sedang fight dengan penyakitnya. Membuat kita pada akhirnya mengerti bahwa di luar sana mereka sedang berjuang di dalam ujiannya masing-masing. Juga membuat aku sadar bahwa kita harus berbuat baik kepada siapa pun, karena kita nggak pernah tau ujian apa yang sedang mereka alami di hidupnya.

So, it is 8/10 from me. Layak ditonton dan sangat layak untuk diapresiasi. Well done Vino, Nirina, dan Anantya yang betul-betul portray keluarga hangat dengan baik, kita kayak lagi diajak untuk lihat kehidupan keluarga pada umumnya. Aku juga suka banget melihat interaksi Arga dan Nala yang kayak bapak-anak beneran, apalagi ketika si bapak jealous sewaktu melihat anaknya udah mulai gede dan sebel kalau anaknya nggak mau dipeluk di depan umum. Dan untuk semua karakter di film ini, you guys did well!

Terakhir, salam hangat terbaikku untuk semua penderita ALS yang sedang berjuang setiap hari, untuk keluarga yang selalu menemani dengan kesabaran seluas samudera, kalian adalah yang terhebat. Semoga dunia selalu memeluk dengan erat dan hangat.

Buat yang belum berkesempatan menonton di bioskop, don't worry, sekarang kalian sudah bisa menikmati film ini melalui platform Netflix. Sooo, enzoooooy!

Komentar

Postingan Populer